Green News
Kota Nelayan Grindavik Terancam Hilang Dilahap Lahar Gunung Berapi di Islandia
Kamis, 18 Januari 2024
Ilustrasi. Letusan gunung berapi Fagradalsfjall di Islandia mengancam kota nelayan Grindavik. Rumah-rumah telah dilahap lahar vulkanik, air dan listrik pun rusak. (PEXELS/Andrew Schwark).
Denpasar. Grindavik, kota nelayan di Islandia, terancam hilang setelah lahar vulkanik gunung berapi Fagradalsfjall melahap rumah-rumah setempat. Penduduk Grindavik khawatir mereka tidak akan pernah kembali ke rumah mereka karena lahar menghancurkan juga pasokan air dan listrik.
Gunung berapi Fagradalsfjall meletus kedua kalinya dalam waktu kurang dari sebulan pada Minggu (14/1) lalu. Pemerintah setempat pun menginstruksikan penduduk untuk segera meninggalkan kota di barat daya pulau tersebut seiring dengan gempa yang terjadi yang mengindikasikan letusan gunung.
David Ingi Bustion (31), arsitek yang tinggal di kota itu selama tiga generasi, menyebut retakan terbaru membuat 3.800 penduduk Grindavik berada dalam ketidakpastian. Beberapa orang bahkan menanyakan apakah kota tersebut masih dapat dihuni.
“Kami tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang. Hal ini menimbulkan tanda tanya dalam kehidupan masyarakat sekitar. Beberapa rumah terbakar. Pipa air dan listrik rusak, sehingga tidak ada pemanas di tengah cuaca sangat dingin,” ujarnya dilansir Guardian, Rabu (17/1).
Keaktifan gunung berapi Fagradalsfjall tampak berkurang pada Senin (15/1). Namun, kantor meteorologi Islandia menilai Kota Grindavik berisiko tinggi. Retakan baru bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan. “Sulit memperkirakan berapa lama letusan ini akan berlangsung,” tulis pernyataan resmi.
Letusan gunung berapi kelima yang melanda semenanjung Reykjanes sejak 2021 lalu sebetulnya sudah membuat penduduk Grindavik dalam ketidakpastian.
Kemudian, letusan gunung berapi lebih dahsyat terjadi lagi di dekat kota pertama kali pada 18 Desember 2023 setelah guncangan gempa berminggu-minggu.
Penduduk Grindavik sudah dievakuasi sebagai tindakan pencegahan. Namun, lebih dari 100 orang telah kembali ke rumah mereka dalam beberapa pekan terakhir yang kemudian dievakuasi lagi pada akhir pekan lalu.
“Sebagian besar keluarga kami sudah kembali ke Grindavik. Namun, pada Minggu pukul 3 pagi, mereka dibangunkan oleh sirene dan diminta melarikan diri,” ungkap Bustion.
“Dari informasi yang diperoleh, sepertinya tidak akan ada lagi kerusakan, namun sekarang masalahnya tidak ada air dan pemanas,” lanjutnya.
Ia menambahkan orang yang tinggal di Islandia cukup beruntung secara ekonomi dan kehidupan mereka cukup stabil. Tetapi, bencana ini membuat tanda tanya besar.
Letusan gunung berapi di Islandia belum mengakibatkan kematian. Namun, seorang pria hilang setelah dilaporkan jatuh ke dalam retakan.
Presiden Islandia Guoni Th Johannesson menuturkan dalam pidatornya bahwa negaranya sedang berjuang melawan kekuatan alam yang luar biasa.
Ahli Geofisika di Universitas Islandi Magnus Tumi Gudmundsson menilai aktivitas vulkanik menurun drastis dalam semalam, tetapi sulit untuk memprediksi kapan aktivitas ini akan berakhir.
Islandia terletak di atas hotspot gunung berapi di Atlantik utara dan rata-rata mengalami satu letusan setiap empat hingga lima tahun. Yang paling mengganggu adalah letusan gunung berapi Eyjafjallajokull pada 2010 yang memuntahkan awan abu ke atmosfer dan mengganggu perjalanan udara selama berbulan-bulan.
Wartawan : Gungsri Adisri
Komentar