Green Lifestyle
Temu Perempuan Minimalis 2026: Dari Lemari ke Aksi Nyata Kurangi Limbah Fesyen
TPM 2026 mengangkat sustainable fashion sebagai respons atas meningkatnya limbah tekstil dan konsumsi pakaian berlebih.
Senin, 16 Februari 2026
Sesi talkshow “Living with Less Fashion Waste: From Buying to Recycling” dalam Temu Perempuan Minimalis 2026 membahas praktik sustainable fashion dan pengelolaan pakaian pasca-pakai.
JAKARTA. Minimalist Moms Indonesia (MMID) sukses menggelar Temu Perempuan Minimalis (TPM) 2026 pada Minggu, 25 Januari 2026 di Sekolah Murid Merdeka (SMM), Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Mengusung tema #WearWiselyLiveFully, acara tahunan ini secara khusus mengangkat isu sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan, sebagai respons terhadap meningkatnya persoalan limbah tekstil dan konsumsi pakaian yang berlebihan.
Tahun ini, TPM memfokuskan pembahasan pada bagaimana perempuan dapat lebih bijak dalam membeli, memakai, merawat, hingga mengelola pakaian pasca pakai. Isu fesyen berkelanjutan dipilih karena dinilai dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan.
MMID merupakan komunitas perempuan yang berfokus pada praktik minimalisme dalam keseharian, mulai dari pengelolaan rumah tangga hingga pola konsumsi. Melalui diskusi, kampanye, dan kegiatan kolaboratif, MMID mendorong anggotanya untuk hidup lebih sederhana, cukup, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. TPM menjadi agenda tahunan untuk memperluas dampak edukasi sekaligus memperkuat jejaring antaranggota.
Dalam TPM 2026, ada beragam kegiatan yang bisa diikuti peserta. Mulai dari talkshow bersama para praktisi sustainable living, workshop perbaikan dan upcycling pakaian, Pasar Tukar barang-barang preloved, hingga Sustainability Bazaar yang menghadirkan pelaku usaha ramah lingkungan. Rangkaian kegiatan ini dirancang agar peserta tidak hanya mendapatkan wawasan, tetapi juga pengalaman praktik yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara TPM 2026 dimulai dengan talkshow bertajuk “Living with Less Fashion Waste: From Buying to Recycling”. Sesi ini menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi mendalam mengenai persoalan limbah fesyen.
Pada sesi ini, Nada Arini, praktisi gaya hidup berkelanjutan (sustainable living), menekankan pentingnya kesadaran dalam memilih, mengenakan, dan merawat pakaian sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa praktik outfit repeater perlu dipahami sebagai keputusan sadar, bukan sekadar tren atau keterpaksaan.
Bagi Nada yang gemar menggunakan warna putih ini, mengulang pakaian justru menunjukkan bahwa seseorang memahami fungsi dan kebutuhan personalnya, alih-alih terus mengikuti dorongan konsumsi yang sering dipicu tren cepat. Lemari yang dirancang fungsional dengan warna-warna netral, lanjutnya, dapat memudahkan proses padu padan, mengurangi beban mental dalam menentukan pilihan busana, sekaligus menekan potensi belanja impulsif. “Mengulang pakaian bukan berarti tidak punya pilihan. Justru itu bentuk kendali atas konsumsi kita,” ujarnya.
Sementara itu, Aisyah Winna, Founder Bersibersi Lemari dan Teman Hebat Berkarya, mengingatkan bahwa persoalan limbah fesyen tidak berhenti pada tahap pembelian. Ia menilai masih banyak orang yang menganggap decluttering sebagai solusi akhir, padahal tanpa pengelolaan yang tepat, pakaian bekas justru berisiko menambah timbunan sampah tekstil.
“Decluttering seharusnya tidak sekadar membuat rumah lega. Kita perlu memastikan pakaian yang keluar dari lemari benar-benar memberi dampak, bukan menambah masalah baru,” katanya.
Aisyah melanjutkan, decluttering perlu dilakukan secara bertanggung jawab dengan memastikan pakaian yang keluar dari lemari benar-benar layak dan memiliki jalur distribusi yang jelas. Melalui gerakan Bersibersi Lemari, pakaian bekas dikelola melalui tiga jalur utama: upcycle bersama teman disabilitas untuk memberi nilai tambah dan dampak pemberdayaan, penyaluran ke masyarakat dan wilayah 3T, serta penjualan kembali guna mendukung kegiatan sosial dan pendidikan. Pendekatan ini diharapkan dapat memperpanjang siklus hidup pakaian sekaligus mengurangi beban lingkungan akibat limbah tekstil.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai aktivitas partisipatif. Peserta mengikuti workshop Basic Repair bertema “Repair First, Re-wear Later” untuk mempelajari teknik menjahit dasar bersama tim dari @jahitku_hub. Kemudian ada juga simple upcycling workshop yang mengajak peserta mengubah kaos lama menjadi tas serut fungsional bareng tim @revup.id.
Kemudian, ada juga kegiatan Pasar Tukar dengan tagline #PedePakaiPreloved yang mengajak peserta menghibahkan pakaian layak pakai sekaligus mengadopsi item yang dibutuhkan. Panitia juga menyediakan Drop Box #BijakMembuang untuk pakaian tak layak pakai, minyak jelantah, kertas, dan kardus sebagai bagian dari edukasi pengelolaan sampah terpadu.
Tak kalah menarik, TPM 2026 juga menghadirkan Sustainability Bazaar yang melibatkan pelaku usaha ramah lingkungan. Berbagai produk berkelanjutan, mulai dari fesyen preloved, produk daur ulang, hingga kebutuhan rumah tangga minim sampah, ditampilkan sebagai alternatif konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Bazaar ini menjadi penghubung antara edukasi dan praktik nyata, sekaligus mendukung ekosistem usaha kecil yang bergerak di bidang keberlanjutan.
Bagi keluarga yang hadir, tersedia Kids Activity bersama tim dari SMM Pasanggrahan, yang bertema “Rain, Cloud, and Sunshine”. Aktivitas seru ini mengajak anak mengenal fenomena alam melalui eksperimen sederhana dan kegiatan kreatif.
Melalui rangkaian kegiatan ini, MMID menegaskan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Founder MMID, Evi Syahida, menyampaikan bahwa minimalisme bukan sekadar soal memiliki lebih sedikit barang, melainkan tentang membangun kesadaran kolektif dalam memilih, memakai, dan mengelola apa yang dimiliki. “Kami ingin perempuan merasa berdaya mengambil keputusan atas apa yang mereka beli, pakai, dan buang. Dari lemari yang lebih sadar, kita sedang membangun tanggung jawab yang lebih besar terhadap bumi,” ujarnya. (KEN)
Wartawan : Sekaring Ratri
Penulis : Sekaring Ratri
Komentar