Green Lifestyle
Puasa Tapi Kok Nyampah? Saatnya Tobat Ekologis di Bulan Suci
Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tapi juga aksi ekologis.
Rabu, 18 Maret 2026
Berbuka dengan yang manis, tanpa meninggalkan jejak yang tragis. Pastikan piringmu bersih dan tak ada takjil yang terbuang sia-sia.
JAKARTA. Ramadan selalu identik dengan momen spiritualitas, pengendalian diri, dan kembali ke fitrah. Namun, jika kita melihat realitas di lapangan, ada pemandangan yang kontras: tumpukan kantong plastik takjil di pinggir jalan hingga sisa makanan yang menggunung di tempat sampah.
Pernahkah kita bertanya-tanya, apakah esensi puasa kita sudah sejalan dengan kesehatan Bumi? Mari kita bedah sisi ekologis Ramadan yang sering kali luput dari perhatian.
Secara harfiah, puasa berarti menahan. Kita dilatih untuk menahan lapar, haus, dan amarah. Namun lebih dari itu, puasa sebenarnya adalah aksi ekologis yang nyata. Saat kita berpuasa, frekuensi konsumsi harian berkurang drastis, memberi waktu bagi Bumi untuk sejenak beristirahat dari eksploitasi manusia. Jika dilakukan dengan penuh kesadaran, puasa bukan hanya menjadi spiritual healing bagi jiwa, tapi juga eco-healing bagi planet ini.
Sayangnya, esensi pengendalian diri sering kali kalah oleh fenomena "laper mata" saat waktu berbuka tiba. Kita sering terjebak membeli segala jenis takjil hanya karena nafsu sesaat, yang akhirnya berujung pada tumpukan sampah plastik sekali pakai. Lebih miris lagi, nafsu makan yang tidak terkontrol ini memicu lonjakan food waste (sampah makanan). Perilaku "balas dendam" ini bukan sekadar masalah nafsu, melainkan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan nasional.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa timbulan sampah di Indonesia sering kali mengalami peningkatan signifikan sebesar 10-20% selama Ramadan , dengan kontribusi terbesar berasal dari sisa makanan.
Sementara, menurut laporan Food Waste Index 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP), dunia membuang lebih dari 1 miliar ton makanan setiap tahunnya, dan Indonesia secara konsisten berada di jajaran negara penyumbang sampah makanan terbesar di Asia Tenggara.
Lebih spesifik lagi, riset dari Bappenas mengungkapkan bahwa kerugian ekonomi akibat Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun, atau setara dengan 4% hingga 5% PDB Indonesia. Ironisnya, saat kita membuang sisa takjil atau nasi yang tak habis dimakan, sampah tersebut berakhir di TPA dan menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang 25 kali lebih berbahaya daripada CO2 dalam memicu pemanasan global.
Perilaku konsumtif ini jelas mencederai nilai kesederhanaan dan kemanusiaan yang diajarkan dalam puasa. Di saat ribuan orang masih berjuang melawan kelangkaan pangan, tumpukan sisa makanan di meja makan kita menjadi bukti nyata bahwa "tobat ekologis" bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan di bulan suci ini.
Menjadi pribadi yang lebih baik di bulan suci berarti juga harus peduli pada lingkungan. Kita bisa melakukan "tobat ekologis" melalui langkah sederhana, seperti membawa tumbler dan wadah sendiri saat membeli takjil, serta memastikan piring makan bersih tanpa sisa. Dengan mengurangi sampah plastik dan limbah makanan, kita memastikan ibadah tetap maksimal tanpa meninggalkan jejak negatif bagi Bumi.
Gimana kita mau menjaga iman dengan maksimal, kalau menjaga lingkungan tempat kita berpijak saja masih ogah-ogahan? Yuk, ajak teman dan keluarga untuk mulai bergerak bersama. Sudah siap jadi bagian dari perubahan di Ramadan kali ini?
Wartawan : Sekaring Ratri
Penulis : Sekaring Ratri
Komentar