logo loading

Green News

Overtourism Nataru 2025: Healing atau Killing the Planet?

Ancaman 59 Ribu Ton Sampah di Balik Libur Nataru

 Rabu, 07 Januari 2026

Liburan kali ini terasa lebih sesak? Itu tandanya destinasi favorit kita lagi kena


JAKARTA.  Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 akhirnya tiba, namun pemandangan di berbagai destinasi populer kita justru jauh dari kata tenang. Alih-alih mendapatkan suasana yang menyegarkan, banyak dari kita malah terjebak di tengah kerumunan yang menyesakkan. Fenomena ini kita kenal sebagai overtourism, yaitu sebuah kondisi di mana sebuah tempat wisata dipaksa menampung manusia jauh melampaui kapasitas alaminya.

Ancaman di Balik Tumpukan Sampah dan Krisis Air

Kondisi overtourism saat ini sudah di tahap yang cukup mengkhawatirkan. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyebutkan potensi timbulan sampah selama dua minggu liburan ini mencapai angka fantastis, yakni 59.000 ton. Angka ini setara dengan berat 8.000 gajah dewasa yang "dibuang" ke alam dalam waktu singkat, di mana sebagian besar berisiko berakhir mencemari laut.

Namun, dampaknya bukan cuma soal sampah atau macet yang menguras emosi. Di balik itu, ada krisis air yang mengintai karena hotel-hotel besar terus menyedot air tanah hingga membuat sumur warga lokal mengering. Belum lagi lonjakan emisi karbon dari kendaraan yang terjebak berjam-jam, hingga social burnout yang dirasakan warga lokal karena rumah mereka mendadak terlalu padat dan tak lagi ramah bagi penghuninya sendiri.

Mulai Jadi “Conscious Traveler”

Melihat situasi ini, pilihannya ada di tangan kita: tetap ikut arus atau mulai menjadi conscious traveler. Kita bisa memulai dengan langkah sederhana seperti slow travel dengan menikmati satu tempat lebih lama ketimbang berpindah-pindah hanya demi konten. 

Kita juga bisa mulai membiasakan membawa zero waste kit seperti tumbler dan tas belanja sendiri. Selain itu, mendukung ekonomi warga lokal dengan belanja di warung sekitar jauh lebih berdampak daripada sekadar menyumbang ke jaringan ritel besar.

Jika mulai lelah dengan keramaian yang itu-itu saja, ini waktu yang tepat untuk mencari hidden gem yang lebih tenang. Cobalah melipir ke Munduk yang lebih sunyi daripada Canggu, atau nikmati senja di persawahan Nanggulan ketimbang berdesakan di Malioboro. Kawasan seperti Situ Gunung juga bisa jadi pelarian segar dibandingkan dengan area Lembang yang sudah terlalu sesak. Mari kita pilih gaya liburan yang tidak hanya memulihkan jiwa kita, tapi juga memberikan ruang bagi bumi untuk ikut "healing". (KEN)

 


Wartawan : Sekaring Ratri

Penulis : Sekaring Ratri

Komentar

Terpopuler